Indahnya hidup ini ketika kita melakukan suatu hal yang mempunyai manfaat. Hidup kita sangat begitu menyenangkan ketika kita bisa memberikan sebuah kebanggaan untuk di persembahkan kepada orang yang kita cintai. Hidup ini sangatlah begitu berarti ketika kita mampu mengerti dan memahami orang lain terutama orang yang kita cintai. Hidup kita akan selalu Tenang dan menggairahkan ketika selalu bersyukur dan ikhlas atas kehidupan yang kita dapatkan dan kita jalani.
kata-kata yang indah yaaa? siapa sih yang ga mau seperti kalimat diatas, pasti semua orang maulah. hanya orang yang tak punya hati yang tak mau seperti itu...kidding
kita hidup hari ini sangat sederhana yaa, kita hidup untuk menunggu kematian. ya hanya untuk menunggu kematian, dan ini yang tak pernah kita sadari, tidak pernah kita sadari sedari kita lahir sampai saat ini. Kita hanya berfikir Hidup kita untuk kesuksesan dunia semata, hanya untuk rumah mewah, mobil mahal, makan enak, duit yang banyak, pokoknya maunya yang enak dah, ada kata yang buat saya tersenyum geli, "Muda Foya-foya, Tua kaya Raya, Mati masuk surga". bbeh kata yang tak masuk akal kn?
Memang sederhana, saat ini kita hanya tinggal menunggu kematian, semua sudah tertulis dan tidak bisa di ubah lagi. Nah masalahnya kita menunggu kematiannya sambil melakukan apa, nah itu pertanyaannya. ga mungkin kan kita menunggu kematian hanya bengong, melamun, jongkok. nah kita selama ini melakukan apa nih sambil menunggu kematian menjemput.
Ada yang menunggu kematian dengan main gaplek, remi, judi sabung ayam. ada juga yang menunggu kematian sambil korupsi, makan uang anak yatim, dan banyak dah hal-hal yang dilakukan seluruh manusia untuk menunggu kematiannya. ada semuanya dan beragam, dari yang paling jelek dan salah sampai dari yang paling baik dan benar.
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran."(Q.S. 103)
Nah seni terindah menunggu kematian adalah mengerjakan amal shaleh dan menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. yang Lebih di kenal dengan sebutan "The Real Agent Of Change", menjadi agen perubahan untuk menjadi lebih baik lagi. ini yang terbaik yang kita lakukan sambil menunggu kematian. menjadi manfaat untuk orang lain. mengajak orang lain untuk amar makhruf nahi mungkar. ini tugas manusia sesungguhnya sambil menunggu kematian dengan seni yang begitu indah.
mengajarkan islam kepada orang yang belum mengenal indahnya islam, inilah seni yang indah dalam menunggu kematian. bagaimana caranya agar kita bisa menjadi manusia yang bermanfaat dalam mengenalkan islam, sebagai seorang the real agent of change. ada caranya dong, nih caranya
1. menjadi teladan sebelu mengenalkan islam
2. menjalin keakraban sebelum memberikan pelajaran mengenal islam dan iman
3. mempermudah bukan mempersulit orang lain dalam mengenal islam
4. menyampaikan yang dasar terlebih dahulu
5. memberi kabar gembira terlebih dahulu ketika belajar islam sebelum ancaman
6. memberikan pemahaman bukan mendikte
Itu cara bagimana kita menjadi manusia yang bermanfaat dan menjadi The Real Agent Of Change. sebuah Seni Terindah Menunggu Kematian. mudah-mudahan kita menjadi manusia yang selalu memberikan warna dalam hidup dan selalu mewarnai dalam setiap kehidupan. dan Bidadari akan menjemput kematian kita ketika melakukan sebuah seni terindah ketika menunggu kematian. buatlah INSPIRASI MENGGAIRAHKAN HIDUP YANG TAK KENAL KATA HENTI.
Baca Selengkapnya...
Rindu Sang Ibu Pertiwi Kepada Kita, Generasi Pemuda Indonesia
Ketika ada yang bertanya kepada kita tentang seberapa cinta kita kepada negara kita Indonesia, jawaban apa yang bisa kita berikan? Apakah kita akan menjawab bahwa kita begitu mencintai negeri yang indah ini ataukah kita akan menjawab bahwa kita tidak mencintai lagi negeri ini karena negeri ini terlalu payah dan tidak ada yang bisa dibanggakan, ataukah bahkan kita akan menghindar dari pertanyaan yang mungkin dianggap tidak penting ini.
Sebagai putra-putri Indonesia yang terlahir, tumbuh dan berkembang di Indonesia tentunya tanpa ditanya tentang seberapa besar cinta kita pada tanah air. Kita semua seharusnya tahu dan mengerti betul bahwa kita begitu mencintai negeri ini. Tapi, yang menjadi pertanyaan, mengapa rasa cinta itu tidak pernah nampak?
Banyak orang yang mengatakan bahwa Negara Indonesia, tempat kita bernaung diri ini sedang sakit. Lalu, sebenarnya jika kita resapi dan pahami secara lebih mendalam, sebenarnya siapa yang sakit? Apakah tanahnya? Lautnya? Hutannya? Ataukah para penghuninya? Hakekatnya negara ada karena tiga unsur. Secara de facto, syarat dari berdirinya suatu negara adalah adanya rakyat, wilayah, serta pemerintahan yang berdaulat. Lalu mungkinkah wilayahnya yang sedang sakit?
Rasanya tidak mungkin, bukankah suatu wilayah hanya merupakan benda mati yang kondisinya akan tergantung dari orang-orang yang mendiaminya? Ataukah mungkin rakyatnya yang sakit? Hal ini mungkin saja menjadi penyebabnya, akan tetapi, bukankah rakyat hanya akan bertindak atau melakukan apa yang dianjurkan oleh pemerintahnya dan juga tidak melakukan apa yang dilarang oleh pemerintahnya? Lalu siapakah yang membuat Indonesia sakit? Ya, pemerintahlah yang patut disalahkan. Tapi kenapa pemerintah yang harus disalahkan?
Pemerintah sebagai pemimpin dari suatu negara bertugas untuk mengawal jalannya suatu sistem pemerintahan dalam rangka penyelenggaraan suatu negara. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Indonesia menganut trias politica. Konsep pemisahan kekuasaan trias politica mengatur bahwa kekuasaan pemerintahan dalam suatu Negara dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kekuasaan eksekutif, kekuasaan legislatif dan kekuasaan yudikatif. Konsep ini ada sebagai solusi untuk menghindari penyalahgunaan kekuasaan. Pada kenyataan yang ada di Indonesia, kekuasaan legislatif dipegang oleh dewan perwakilan rakyat.
Dewan perwakilan rakyat (DPR) di Indonesia sering membuat ulah. Tidak sedikit polemik yang terjadi akibat ulah pejabat Senayan ini. Mereka yang dipercaya oleh rakyat untuk duduk di kursi yang empuk, di ruangan berpendingin lengkap dengan fasilitasnya, sering kali justru menorehkan kekecewaan yang mendalam bagi rakyatnya. Tidakkah mereka melihat bahwa rakyatnya rela menderita, sakit lantaran disiksa di negeri orang, menjadi pejuang devisa.
Tidakkah mereka melihat bahwa masih banyak rakyatnya yang tidurnya masih di jalan-jalan tanpa alas. Kenyataan yang terjadi sekarang, sungguh ironis sekali. Rasa sakit rakyat yang menderita, mereka balas dengan ketidakbecusan dalam memimpin negeri ini. Kalau hanya bertugas untuk duduk mendengarkan rapat sambil tidur atau sekedar jalan-jalan ke luar negeri hanya untuk belajar etika, mungkin orang-orang yang sedang tiduran di kolong jembatan bisa melakukannya.
Bangsa ini sudah terlalu lama menderita dengan segala tingkah laku para pejabat pemerintah yang tidak tahu diri. Lalu, apakah bangsa ini akan begini terus keadaannya? Ataukah nantinya keadaannya akan bertambah buruk? Ataukah masih tertoreh sedikit harapan bagi sang ibu pertiwi untuk sedikit mengembangkan senyumnya di suatu saat nanti?
Kita. Jawabannya adalah kita. Kita para generasi mudalah yang harus mampu menjawab pertanyaan tersebut. Seperti apakah wajah ibu pertiwi kita nanti, sangatlah bergantung kepada para calon pemimpin negeri ini, termasuk kita para mahasiswa.
Kemudian setelah itu, apakah sekarang kita hanya bisa diam sambil menunggu tibanya waktu kita untuk memimpin negeri ini? Ataukah bahkan sekarang kita sudah menyerah pada kehinaan yang mungkin sudah tertanam dalam benak kita bahwa negeri yang dulu indah ini tidak akan mungkin bisa berjaya, sehingga tidak ada sedikitpun semangat untuk membangun negeri ini?
Tentu tidak. Kita, saya dan anda harus bisa berbuat untuk negeri tercinta ini. Kita harus mulai dari detik ini. Segala apa yang bisa kita lakukan sebagai wujud dari kontribusi untuk sang ibu periwi harus kita lakukan. Ibu pertiwi sudah terlalu lama terluka. Dia merindukan adanya keindahan dan kesejahteraan. Dia merindukan kita, putra-putrinya. Dia merindukan kita yang berprestasi, kita yang unggul, kita yang berbudaya. Dia sudah teramat bosan dengan luka-luka yang menyayat dan menyakiti dirinya. Dia sudah terlalu bosan dengan tingkah polah para penghianat rakyat.
Kita sebagai putra-putri terbaik bangsa jalan kita masih panjang. Janganlah kita hanya bisa menjadi beban bagi negeri ini. Negeri ini sangat membutuhkan kita. Oleh karena itu, sebagai sosok yang dirindukan oleh ibu pertiwi kita harus berbeda dengan para pendahulu yang telah melukai negeri ini. Kita, para pemuda harus memiliki karakter, cerdas, dan juga bermental Pancasila. Menjadi pemuda yang memilki karakter asli bangsa Indonesia. Menjadi pemuda yang cerdas agar senantiasa berpikir rasional.
Sehingga kita dapat bertindak dengan benar untuk kemajuan bangsa. Yang diperlukan pula yaitu menjadi pemuda yang memilki mental Pancasila. Mental Pancasila wajib dimiliki oleh kita, para pemuda Indonesia. Rintangan, godaan serta tantangan yang begitu banyak yang mungkin akan menghadang kita saat kita memimpin negeri ini akan mudah dihadapi apabila kita memiliki mental Pancasila. Jika kita melihat persoalan bangsa Indonesia saat ini maka dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya persoalan-persolan tersebut terjadi karena para pejabat yang memimpin negeri ini tidak memiliki mental Pancasila sehingga tidak sedikit dari mereka yang korupsi.
Selain itu, kita sebagai pemuda harapan Indonesia harus menjadi pemuda yang memiliki nasionalisme serta patriotisme yang tinggi terhadap Indonesia. Sehingga kita menjadi orang yang secara sungguh-sungguh mencintai bangsa dan negara Indonesia serta rela berkorban untuknya. Janganlah cuma menjadi orang yang saat muda pandai bicara tentang nasionalisme, namun, ketika sudah memimpin negeri ini, amnesia dengan kata nasionalisme dan patriotisme. Rasa tanggung jawab yang tinggi juga harus kita miliki agar kita tidak menjadi pecundang yang hanya bisa merugikan dan mengecewakan orang lain.
Kita juga harus berjiwa kreatif dan inovatif yang berbudaya Indonesia dalam menghadapi arus globalisasi saat ini. Seperti yang kita ketahui bahwa globalisasi bisa dengan mudah membuat kita melupakan budaya Indonesia. Pada realitanya, saat ini banyak para pemuda yang justru lebih kenal bahkan lebih mencintai budaya asing daripada budaya asli Indonesia.
Dan yang tidak kalah pentingnya yaitu kita harus senantiasa berpikir positif dan senantiasa optimis. Kita harus optimis bahwa Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan ini. Kita harus optimis bahwa kita bisa mengobati rindu sang ibu pertiwi akan kejayaan. Karena tanpa optimis dan pikiran yang positif, kita akan menjadi pemuda yang skeptis, yang hanya bisa menyerah dengan keterpurukan tanpa melakukan apa-apa. Orang yang selalu berpikir negatif dan pesimis selalu melihat sesuatu sebagai masalah yang tiada mungkin ada solusinya, sedangkan orang yang optimis dan berpikir positif melihat setiap masalah pasti selalu ada solusinya. Dan yang dibutuhkan oleh bangsa kita, bangsa yang banyak dibilang orang sebagai bangsa yang sakit, adalah semangat dan kemauan untuk maju.
Kami para pemuda Indonesia, menjadi sosok yang tengah dirindukan oleh ibu pertiwi tercinta, harus mampu membawa semangat positif bagi perkembangan negeri ini. Kita bisa menjadi pemuda yang mandiri, terampil, dan berusaha sekuat tenaga mengangkat martabat bangsa menuju Indonesia yang sejahtera. Kita bisa dan harus bisa. Sejuta prestasi kita torehkan bukan hanya untuk kemajuan diri sendiri, tetapi untuk bangsa kita, bangsa Indonesia dan juga untuk negara kita tercinta, Negara Indonesia.
Semua pemuda-pemuda Indonesia adalah manusia-manusia yang memanggul amanat masa depan Indonesia. Sebagai pemuda yang berintelektual secara sadar kita harus melakukan yang terbaik untuk negeri ini. Konsentrasi bahwa negeri ini sedang membutuhkan wajah-wajah yang bisa membanggakan ibu pertiwi.
Indonesia, kami putra-putri terbaikmu akan mengabdi sepenuh jiwa dan raga kami untukmu. Segenap do’a dan usaha akan kami lakukan untuk membuat engkau tersenyum. Indonesia, ini bukan idealisme sementara kami. Indonesia, tempat kami pertama kali melihat dunia, cinta kami akan selalu membara untukmu. Dan disetiap denyut nadi ini akan kami persembahkan untuk memenuhi kerinduanmu akan kedamain, kesejahteraan, kebahagiaan negara ini, wilayahnya, rakyatnya, dan juga pemerintahannya.
Akhirnya, kita sebagai generasi pemuda, generasi penerus bangsa harus mampu menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesia masih memiliki kekuatan supernya, kekuatan itu bernama pemuda. Pemuda yang berkarakter, unggul, berprestasi dan berbudaya, serta pemuda-pemuda yang setia pada bangsa dan negaranya. Hingga nantinya kejayaan itu nyata terjadi di bumi ini, tanah air ini, untuk selanjutnya dan untuk seterusnya. Tiada asa tanpa jawab karena setiap asa pasti ada usaha di baliknya. Untukmu Indonesiaku, aku datang untuk mengobati luka terdalammu serta rindumu kepadaku.
Ahmad Fanani
Baca Selengkapnya...
Sebagai putra-putri Indonesia yang terlahir, tumbuh dan berkembang di Indonesia tentunya tanpa ditanya tentang seberapa besar cinta kita pada tanah air. Kita semua seharusnya tahu dan mengerti betul bahwa kita begitu mencintai negeri ini. Tapi, yang menjadi pertanyaan, mengapa rasa cinta itu tidak pernah nampak?
Banyak orang yang mengatakan bahwa Negara Indonesia, tempat kita bernaung diri ini sedang sakit. Lalu, sebenarnya jika kita resapi dan pahami secara lebih mendalam, sebenarnya siapa yang sakit? Apakah tanahnya? Lautnya? Hutannya? Ataukah para penghuninya? Hakekatnya negara ada karena tiga unsur. Secara de facto, syarat dari berdirinya suatu negara adalah adanya rakyat, wilayah, serta pemerintahan yang berdaulat. Lalu mungkinkah wilayahnya yang sedang sakit?
Rasanya tidak mungkin, bukankah suatu wilayah hanya merupakan benda mati yang kondisinya akan tergantung dari orang-orang yang mendiaminya? Ataukah mungkin rakyatnya yang sakit? Hal ini mungkin saja menjadi penyebabnya, akan tetapi, bukankah rakyat hanya akan bertindak atau melakukan apa yang dianjurkan oleh pemerintahnya dan juga tidak melakukan apa yang dilarang oleh pemerintahnya? Lalu siapakah yang membuat Indonesia sakit? Ya, pemerintahlah yang patut disalahkan. Tapi kenapa pemerintah yang harus disalahkan?
Pemerintah sebagai pemimpin dari suatu negara bertugas untuk mengawal jalannya suatu sistem pemerintahan dalam rangka penyelenggaraan suatu negara. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Indonesia menganut trias politica. Konsep pemisahan kekuasaan trias politica mengatur bahwa kekuasaan pemerintahan dalam suatu Negara dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kekuasaan eksekutif, kekuasaan legislatif dan kekuasaan yudikatif. Konsep ini ada sebagai solusi untuk menghindari penyalahgunaan kekuasaan. Pada kenyataan yang ada di Indonesia, kekuasaan legislatif dipegang oleh dewan perwakilan rakyat.
Dewan perwakilan rakyat (DPR) di Indonesia sering membuat ulah. Tidak sedikit polemik yang terjadi akibat ulah pejabat Senayan ini. Mereka yang dipercaya oleh rakyat untuk duduk di kursi yang empuk, di ruangan berpendingin lengkap dengan fasilitasnya, sering kali justru menorehkan kekecewaan yang mendalam bagi rakyatnya. Tidakkah mereka melihat bahwa rakyatnya rela menderita, sakit lantaran disiksa di negeri orang, menjadi pejuang devisa.
Tidakkah mereka melihat bahwa masih banyak rakyatnya yang tidurnya masih di jalan-jalan tanpa alas. Kenyataan yang terjadi sekarang, sungguh ironis sekali. Rasa sakit rakyat yang menderita, mereka balas dengan ketidakbecusan dalam memimpin negeri ini. Kalau hanya bertugas untuk duduk mendengarkan rapat sambil tidur atau sekedar jalan-jalan ke luar negeri hanya untuk belajar etika, mungkin orang-orang yang sedang tiduran di kolong jembatan bisa melakukannya.
Bangsa ini sudah terlalu lama menderita dengan segala tingkah laku para pejabat pemerintah yang tidak tahu diri. Lalu, apakah bangsa ini akan begini terus keadaannya? Ataukah nantinya keadaannya akan bertambah buruk? Ataukah masih tertoreh sedikit harapan bagi sang ibu pertiwi untuk sedikit mengembangkan senyumnya di suatu saat nanti?
Kita. Jawabannya adalah kita. Kita para generasi mudalah yang harus mampu menjawab pertanyaan tersebut. Seperti apakah wajah ibu pertiwi kita nanti, sangatlah bergantung kepada para calon pemimpin negeri ini, termasuk kita para mahasiswa.
Kemudian setelah itu, apakah sekarang kita hanya bisa diam sambil menunggu tibanya waktu kita untuk memimpin negeri ini? Ataukah bahkan sekarang kita sudah menyerah pada kehinaan yang mungkin sudah tertanam dalam benak kita bahwa negeri yang dulu indah ini tidak akan mungkin bisa berjaya, sehingga tidak ada sedikitpun semangat untuk membangun negeri ini?
Tentu tidak. Kita, saya dan anda harus bisa berbuat untuk negeri tercinta ini. Kita harus mulai dari detik ini. Segala apa yang bisa kita lakukan sebagai wujud dari kontribusi untuk sang ibu periwi harus kita lakukan. Ibu pertiwi sudah terlalu lama terluka. Dia merindukan adanya keindahan dan kesejahteraan. Dia merindukan kita, putra-putrinya. Dia merindukan kita yang berprestasi, kita yang unggul, kita yang berbudaya. Dia sudah teramat bosan dengan luka-luka yang menyayat dan menyakiti dirinya. Dia sudah terlalu bosan dengan tingkah polah para penghianat rakyat.
Kita sebagai putra-putri terbaik bangsa jalan kita masih panjang. Janganlah kita hanya bisa menjadi beban bagi negeri ini. Negeri ini sangat membutuhkan kita. Oleh karena itu, sebagai sosok yang dirindukan oleh ibu pertiwi kita harus berbeda dengan para pendahulu yang telah melukai negeri ini. Kita, para pemuda harus memiliki karakter, cerdas, dan juga bermental Pancasila. Menjadi pemuda yang memilki karakter asli bangsa Indonesia. Menjadi pemuda yang cerdas agar senantiasa berpikir rasional.
Sehingga kita dapat bertindak dengan benar untuk kemajuan bangsa. Yang diperlukan pula yaitu menjadi pemuda yang memilki mental Pancasila. Mental Pancasila wajib dimiliki oleh kita, para pemuda Indonesia. Rintangan, godaan serta tantangan yang begitu banyak yang mungkin akan menghadang kita saat kita memimpin negeri ini akan mudah dihadapi apabila kita memiliki mental Pancasila. Jika kita melihat persoalan bangsa Indonesia saat ini maka dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya persoalan-persolan tersebut terjadi karena para pejabat yang memimpin negeri ini tidak memiliki mental Pancasila sehingga tidak sedikit dari mereka yang korupsi.
Selain itu, kita sebagai pemuda harapan Indonesia harus menjadi pemuda yang memiliki nasionalisme serta patriotisme yang tinggi terhadap Indonesia. Sehingga kita menjadi orang yang secara sungguh-sungguh mencintai bangsa dan negara Indonesia serta rela berkorban untuknya. Janganlah cuma menjadi orang yang saat muda pandai bicara tentang nasionalisme, namun, ketika sudah memimpin negeri ini, amnesia dengan kata nasionalisme dan patriotisme. Rasa tanggung jawab yang tinggi juga harus kita miliki agar kita tidak menjadi pecundang yang hanya bisa merugikan dan mengecewakan orang lain.
Kita juga harus berjiwa kreatif dan inovatif yang berbudaya Indonesia dalam menghadapi arus globalisasi saat ini. Seperti yang kita ketahui bahwa globalisasi bisa dengan mudah membuat kita melupakan budaya Indonesia. Pada realitanya, saat ini banyak para pemuda yang justru lebih kenal bahkan lebih mencintai budaya asing daripada budaya asli Indonesia.
Dan yang tidak kalah pentingnya yaitu kita harus senantiasa berpikir positif dan senantiasa optimis. Kita harus optimis bahwa Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan ini. Kita harus optimis bahwa kita bisa mengobati rindu sang ibu pertiwi akan kejayaan. Karena tanpa optimis dan pikiran yang positif, kita akan menjadi pemuda yang skeptis, yang hanya bisa menyerah dengan keterpurukan tanpa melakukan apa-apa. Orang yang selalu berpikir negatif dan pesimis selalu melihat sesuatu sebagai masalah yang tiada mungkin ada solusinya, sedangkan orang yang optimis dan berpikir positif melihat setiap masalah pasti selalu ada solusinya. Dan yang dibutuhkan oleh bangsa kita, bangsa yang banyak dibilang orang sebagai bangsa yang sakit, adalah semangat dan kemauan untuk maju.
Kami para pemuda Indonesia, menjadi sosok yang tengah dirindukan oleh ibu pertiwi tercinta, harus mampu membawa semangat positif bagi perkembangan negeri ini. Kita bisa menjadi pemuda yang mandiri, terampil, dan berusaha sekuat tenaga mengangkat martabat bangsa menuju Indonesia yang sejahtera. Kita bisa dan harus bisa. Sejuta prestasi kita torehkan bukan hanya untuk kemajuan diri sendiri, tetapi untuk bangsa kita, bangsa Indonesia dan juga untuk negara kita tercinta, Negara Indonesia.
Semua pemuda-pemuda Indonesia adalah manusia-manusia yang memanggul amanat masa depan Indonesia. Sebagai pemuda yang berintelektual secara sadar kita harus melakukan yang terbaik untuk negeri ini. Konsentrasi bahwa negeri ini sedang membutuhkan wajah-wajah yang bisa membanggakan ibu pertiwi.
Indonesia, kami putra-putri terbaikmu akan mengabdi sepenuh jiwa dan raga kami untukmu. Segenap do’a dan usaha akan kami lakukan untuk membuat engkau tersenyum. Indonesia, ini bukan idealisme sementara kami. Indonesia, tempat kami pertama kali melihat dunia, cinta kami akan selalu membara untukmu. Dan disetiap denyut nadi ini akan kami persembahkan untuk memenuhi kerinduanmu akan kedamain, kesejahteraan, kebahagiaan negara ini, wilayahnya, rakyatnya, dan juga pemerintahannya.
Akhirnya, kita sebagai generasi pemuda, generasi penerus bangsa harus mampu menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesia masih memiliki kekuatan supernya, kekuatan itu bernama pemuda. Pemuda yang berkarakter, unggul, berprestasi dan berbudaya, serta pemuda-pemuda yang setia pada bangsa dan negaranya. Hingga nantinya kejayaan itu nyata terjadi di bumi ini, tanah air ini, untuk selanjutnya dan untuk seterusnya. Tiada asa tanpa jawab karena setiap asa pasti ada usaha di baliknya. Untukmu Indonesiaku, aku datang untuk mengobati luka terdalammu serta rindumu kepadaku.
Ahmad Fanani
Baca Selengkapnya...
Untukmu Wahai para Kader Dakwah
Hari ini ku merenung atas segala kesalahan yang pernah saya lakukan. Hari ini ku menangis atas dosa yang selalu ku perbuat. Terutama kesalahan diriku ketika memimpin sebuah organisasi yang indah bernama ROHIS 58, kepadamu teman seperjuangan maafkan diri ini karena telah banyak mengecewakan kalian. Telah banyak membuat antum dan antuna kecewa, ntah harus dengan apa ku menebus segala kesalahan ku ini wahai sahabat seperjuangan. Terima kasih atas semua pengorbanan,perjuangan,keistiqomahan antum dan antuna karena telah membantu menegakkan izah islam. Saya tak bisa memberikan apapun tuk kalian kecuali hanya mendoakan yang terbaik untuk kalian. Mudah-mudahan apa yang kalian perjuangkan dan korbankan akan Allah balas dengan yang terbaik. Insya Allah semua Makhluk di Muka Bumi ini dari makhluk yang berenang,berjalan,Terbang dan tumbuhan akan selalu mendoakan kalian karena keistiqomahan dan komitmen kalian terhadap Dakwah ini.
Teman-teman ku seperjuangan sudah banyak pengorbanan dan perjuangan yang selama ini kita lakukan, banyak pelajaran yang kita dapatkan selama menjadi pengurus. Ukhuwah, Ilmu, Kebersamaan, kepahitan, kesenangan, bahkan mungkin sakit hati pernah kita rasakan selama menjadi pengurus. Tetapi perjuangan kita tidak berakhir di kepengurusan ROHIS. Perjuangan kita masih berlanjut sampai nanti kita mati untuk memperjuangkan dakwah ini. Karena Jalan dakwah ini tetap akan berjalan sampai Allah menerbitkan matahari dari ufuk barat.
IKhwah Fillah adik-adik kita saat ini membutuhkan kepedulian dan kepekaan kita untuk tetap memberikan pengarahan dan kasih sayang untuk mereka. Mari kita ingat bagaimana kita mendapatkan banyak hal dari sini. Dari ROHIS ini. Mentoring, Organisasi, Rihlah, Mabit, Tafakur Alam dan masih banyak hal yang pernah kita dapatkan selama ini. Hari ini kita perbaharui komitmen kita untuk berusaha membalas segala jasa dan pelajaran yang pernah kita dapatkan di SMA terutama di ROHIS ini. Ingat teman-teman Ari-Ari Dakwah kita telah di tanam di sana. DI SMA Negeri 58 Jakarta, karena itu saatnya kita memberikan apa yang kita punya untuk dibagikan ke adik kelas kita. Jangan sampai kita menjadi sebuah kacang yang lupa dengan kulitnya, lupa dengan tempat yang menjadi pelindung, lupa dengan tempat yang telah mengenalkan begitu indahnya Ukhuwah, lupa dengan tempat yang begitu banyak memberikan hal yang tak mungkin diungkapkan dengan kata-kata.
“Diantara Orang-orang mukmin itu ada yang menepati janjinya kepada Allah. Dan diantara mereka ada yang gugur, dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak akan merubah janjinya” (Q.S 33:23)
Taujih rabbani diatas mengingatkan kita terhadap apa yang telah kita janjikan kepada Allah untuk tetap berkomitmen dan istiqomah di jalan dakwah. Dan kita telah menepati janji itu kepada Allah ketika menjalankan roda kepengurusan. Tetapi ayat selanjutnya menjelaskan diantara yang berkomitmen tersebut. Sebagian lagi tidak akan merubah janjinya sedikit pun. Saat ini apakah kita akan merubah janji kita kepada Allah atau mungkin kita tetap teguh dengan janji kita kepada Allah? Teman-teman dengan cara kita kembali membina,mengarahkan dan memberikan kasih sayang kita kepada adik kelas kita itu membuat kita tetap menepati janji kita dan tidak merubah janji kita kepada Allah
Saya mengajak kepada kalian teman seperjuangan untuk bersama-sama membangun dakwah ini. Mengapa saya tetap mau mengurus dakwah sekolah? Kenapa saya tidak mau meninggalkannya? Karena kalo bukan saya siapa lagi. Apakah aku yakin jikalau aku melepaskan dakwah ini, mengorbankan dakwah ini, tidak melanjutkan janji ku kepada Allah akan bisa mengantarkan ke surgan-Nya? Apakah dengan amal kita yang saat ini akan mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW?. Apakah dengan pahala yang saat ini kita milki dapat menolong orang tua kita dari api neraka? Itu belum cukup teman-teman.
Jikalau nanti kita minta beristirahat sementara dalam dakwah, apakah antum yakin ketika antum ingin berdakwah kembali setelah beristirahat sejenak umur antum masih ada? Belum tentu teman. Siapa tahu ketika kita minta beristirahat dalam dakwah seketika itu pula Allah mencabut Nyawa kita. Teman-teman mari kita tepati janji kita kepada Allah dan jangan pernah kita rubah janji itu hingga Allah mencabut nyawa kita.
Teman-teman lewat Dakwah ini Lah kita banyak belajar. Lewat Dakwah inilah kita saling itsar terhadap sesama, lewat dakwah iniLah kita mengenal Islam lebih Luas. Lewat Dakwah ini kita mendapatkan hal-hal yang terindah. Ayo perbaharui niat dan janji kita kepada Allah. Kita berikan apa yang kita punya untuk Dakwah ini terutama Dakwah Sekolah. janganLah kita menjadi anak yang lupa dengan ibu kandungnya. janganLah kita menjadi kacang yang lupa dengan kulitnya. Ingat teman-teman ketika teman melepaskan dakwah ini maka dakwah ini tak akan binasa. Bahkan Allah akan mengantikannya dengan orang yang lebih baik.
Karena BERGERAK ATAU TERGANTIKAN
Teman-teman ku seperjuangan sudah banyak pengorbanan dan perjuangan yang selama ini kita lakukan, banyak pelajaran yang kita dapatkan selama menjadi pengurus. Ukhuwah, Ilmu, Kebersamaan, kepahitan, kesenangan, bahkan mungkin sakit hati pernah kita rasakan selama menjadi pengurus. Tetapi perjuangan kita tidak berakhir di kepengurusan ROHIS. Perjuangan kita masih berlanjut sampai nanti kita mati untuk memperjuangkan dakwah ini. Karena Jalan dakwah ini tetap akan berjalan sampai Allah menerbitkan matahari dari ufuk barat.
IKhwah Fillah adik-adik kita saat ini membutuhkan kepedulian dan kepekaan kita untuk tetap memberikan pengarahan dan kasih sayang untuk mereka. Mari kita ingat bagaimana kita mendapatkan banyak hal dari sini. Dari ROHIS ini. Mentoring, Organisasi, Rihlah, Mabit, Tafakur Alam dan masih banyak hal yang pernah kita dapatkan selama ini. Hari ini kita perbaharui komitmen kita untuk berusaha membalas segala jasa dan pelajaran yang pernah kita dapatkan di SMA terutama di ROHIS ini. Ingat teman-teman Ari-Ari Dakwah kita telah di tanam di sana. DI SMA Negeri 58 Jakarta, karena itu saatnya kita memberikan apa yang kita punya untuk dibagikan ke adik kelas kita. Jangan sampai kita menjadi sebuah kacang yang lupa dengan kulitnya, lupa dengan tempat yang menjadi pelindung, lupa dengan tempat yang telah mengenalkan begitu indahnya Ukhuwah, lupa dengan tempat yang begitu banyak memberikan hal yang tak mungkin diungkapkan dengan kata-kata.
“Diantara Orang-orang mukmin itu ada yang menepati janjinya kepada Allah. Dan diantara mereka ada yang gugur, dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak akan merubah janjinya” (Q.S 33:23)
Taujih rabbani diatas mengingatkan kita terhadap apa yang telah kita janjikan kepada Allah untuk tetap berkomitmen dan istiqomah di jalan dakwah. Dan kita telah menepati janji itu kepada Allah ketika menjalankan roda kepengurusan. Tetapi ayat selanjutnya menjelaskan diantara yang berkomitmen tersebut. Sebagian lagi tidak akan merubah janjinya sedikit pun. Saat ini apakah kita akan merubah janji kita kepada Allah atau mungkin kita tetap teguh dengan janji kita kepada Allah? Teman-teman dengan cara kita kembali membina,mengarahkan dan memberikan kasih sayang kita kepada adik kelas kita itu membuat kita tetap menepati janji kita dan tidak merubah janji kita kepada Allah
Saya mengajak kepada kalian teman seperjuangan untuk bersama-sama membangun dakwah ini. Mengapa saya tetap mau mengurus dakwah sekolah? Kenapa saya tidak mau meninggalkannya? Karena kalo bukan saya siapa lagi. Apakah aku yakin jikalau aku melepaskan dakwah ini, mengorbankan dakwah ini, tidak melanjutkan janji ku kepada Allah akan bisa mengantarkan ke surgan-Nya? Apakah dengan amal kita yang saat ini akan mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW?. Apakah dengan pahala yang saat ini kita milki dapat menolong orang tua kita dari api neraka? Itu belum cukup teman-teman.
Jikalau nanti kita minta beristirahat sementara dalam dakwah, apakah antum yakin ketika antum ingin berdakwah kembali setelah beristirahat sejenak umur antum masih ada? Belum tentu teman. Siapa tahu ketika kita minta beristirahat dalam dakwah seketika itu pula Allah mencabut Nyawa kita. Teman-teman mari kita tepati janji kita kepada Allah dan jangan pernah kita rubah janji itu hingga Allah mencabut nyawa kita.
Teman-teman lewat Dakwah ini Lah kita banyak belajar. Lewat Dakwah inilah kita saling itsar terhadap sesama, lewat dakwah iniLah kita mengenal Islam lebih Luas. Lewat Dakwah ini kita mendapatkan hal-hal yang terindah. Ayo perbaharui niat dan janji kita kepada Allah. Kita berikan apa yang kita punya untuk Dakwah ini terutama Dakwah Sekolah. janganLah kita menjadi anak yang lupa dengan ibu kandungnya. janganLah kita menjadi kacang yang lupa dengan kulitnya. Ingat teman-teman ketika teman melepaskan dakwah ini maka dakwah ini tak akan binasa. Bahkan Allah akan mengantikannya dengan orang yang lebih baik.
Karena BERGERAK ATAU TERGANTIKAN
Baca Selengkapnya...
SAATNYA TAMPIL KEREN!
Betapa kuatnya bangunan Islam jika pemuda islam adalah kaum yang terpelajar. Mungkin negeri ini tidak seburuk sekarang dan Negara ini akn menjadi Negara yang pastinya disegani oleh Negara lainnya. Akhir-akhir ini bahkan sampai kiamat nanti kita membutuhkan sosok generasi muda yang luar biasa, generasi yang Tangguh, yang mampu mengahadapi tantangan perubahan zaman yang saat ini sangat memojokkan islam ke tempat yang kelam.
Tetapi hari ini banyak kekecewan yang kita temukan. Pemuda islam saat ini tidak punya taring, melempem,bahkan bukannya menghindar malah terjerumus ke keindahan dunia yang secara jelas hanya tempat persinggahan. Jika kita merasa pemuda Islam seharusnya kita sadar akan ini semuanya,dan pernahkah kita berfikir agar bisa menyatukan pemuda islam untuk menegakkan izzah islam.
Pemuda islam saat ini disibukkan dengan cinta yang tak jelas. Yang hanya mengedepankan hawa nafsu, banyak yang menyalah artikan cinta. Saya Tanya ke temen-temen apa itu cinta? Jangan sampai cinta yang kita punya salah ditempatkan ingat Loh Allah itu pencemburu ketika ada hambanya yang mencintai mahkluk-Nya daripada Allah.
“Cinta tidak hanya Merah Jambu, yang hanya bisa merayu dan cemburu dengan kemaksiatan yang mengharu biru dan terbelenggu ragu. Tetapi cinta juga Merah saga sebuah semangat yang mengelora dan menyala untuk mengubah dunia dikarenakan cinta kepada sang pencipta”
Kalo dulu islam pernah Berjaya . itu karena pendahulu kita mempersiapkan generasi mudanya yang tangguh. Tidak hanya keimanan mereka tapi juga kekuatan fisiknya. Contohnya Ali r.a ketika perang Khaibar, beliau mampu membobol pintu benteng musuh lalu benteng itu digunakan temang untuk melindungi diri ketika menyerang musuh. Setelah perang berakhir dengan kemenangan islam, dibuanglah pintu benteng tersebut. Ketika bebrapa sahabat lainnya ingin meyingkirkan benteng tersebut tidak ada yang kuat bahkan mereka bersama mengangkatnya tetapi tidak ada yang bisa menyingkirkan.
Lihat juga bagaimana Ali r.a ketika dikemukakan sebuah pertanyaan tentang perbedaan harta dan ilmu oleh 10 orang yang mengadu padanya. Dijawablah oleh Ali dengan 10 jawaban yang berbeda-beda. Lalu pulanglah kesepuluh orang tersebut dengan mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Saat tampil keren. Tampil keren bukan dengan penampilan tetapi dengan otak, ingat temen-temen kita merupakan generasi harapan yang pasti akan menjadi penerus perjuangan. Pemuda islam yang hidupnya bukan untuk hari ini doing tetapi untuk masa depan. Pemuda islam yang memecakan masalah bukan yang menjadi biang masalah.
Oleh karena itu bagi kamu yang masih sekolah dan belum kuliah da mempunya peluang kuliah niatkan hanya untuk Allah serta ilmu yang kita punya untuk menegakkan izzah islam. Banyak pemuda Islam saat ini ketika sekolah atau kuliah bukan mencari ilmu tetapi mencari nilai. Ingat nilai tidak seberapa tetapi klo ilmu itu pasti berguna.
Nach ga juga keren di otak juga tetapi harus keren di iman, keren di hadapan Allah karena ketakwaan, karena pemuda saat ini susah klo di ajak ngaji. Ingat di akhirat nanti kita ga kan di Tanya rumus matematika, fisika atau akuntasi. Ayo sekarang bergerak untuk belajar islam jangan kalah sama orang eropa yang saat ini getol banged belajar islam. Ketika kita ngaji insya Allah iman kita akan kuat. Nich cirri iman yang kuat
-Istiqomah dalam islam : ga pernah mau pindah agama, bangga dengan kerna menjadi pemuda islam
-Bagi-Nya Allah-Lah yang tertinggi : cinta hanya kepada Allah, tidak pernah mau
membagi cinta dan sayang-Nya kepada Makhluk Allah yang bukan muhrimnya.. Insya Allah anda akan menjadi manusia yang hebat bukan manusia pembuat masalah
-Keindahan dunia tidak membuatnya silau : ia tidak pernah memperdulikan kesenangan dunia baginya kesenangan akhirat yang abadi
-Tak pernah ragu tuk berkorban hanya untuk Allah
-Selalu menjalankan yang makhruf dan mencegah yang mungkar
Untuk itu wahai pemuda mari kita bangkit untuk bisa menjadi generasi harapan yang bisa mengubah dunia menjadi yang di inginkan Allah dan Rasul-Nya. Karena perubahan itu ada di tangan pemuda, karena ketika pemudanya menjadi biang masalah perubahan tak akan pernah terjadi tetapi ketika pemudanya menjadi pemecah masalah insya Allah perubahan itu ada.
Baca Selengkapnya...
Tetapi hari ini banyak kekecewan yang kita temukan. Pemuda islam saat ini tidak punya taring, melempem,bahkan bukannya menghindar malah terjerumus ke keindahan dunia yang secara jelas hanya tempat persinggahan. Jika kita merasa pemuda Islam seharusnya kita sadar akan ini semuanya,dan pernahkah kita berfikir agar bisa menyatukan pemuda islam untuk menegakkan izzah islam.
Pemuda islam saat ini disibukkan dengan cinta yang tak jelas. Yang hanya mengedepankan hawa nafsu, banyak yang menyalah artikan cinta. Saya Tanya ke temen-temen apa itu cinta? Jangan sampai cinta yang kita punya salah ditempatkan ingat Loh Allah itu pencemburu ketika ada hambanya yang mencintai mahkluk-Nya daripada Allah.
“Cinta tidak hanya Merah Jambu, yang hanya bisa merayu dan cemburu dengan kemaksiatan yang mengharu biru dan terbelenggu ragu. Tetapi cinta juga Merah saga sebuah semangat yang mengelora dan menyala untuk mengubah dunia dikarenakan cinta kepada sang pencipta”
Kalo dulu islam pernah Berjaya . itu karena pendahulu kita mempersiapkan generasi mudanya yang tangguh. Tidak hanya keimanan mereka tapi juga kekuatan fisiknya. Contohnya Ali r.a ketika perang Khaibar, beliau mampu membobol pintu benteng musuh lalu benteng itu digunakan temang untuk melindungi diri ketika menyerang musuh. Setelah perang berakhir dengan kemenangan islam, dibuanglah pintu benteng tersebut. Ketika bebrapa sahabat lainnya ingin meyingkirkan benteng tersebut tidak ada yang kuat bahkan mereka bersama mengangkatnya tetapi tidak ada yang bisa menyingkirkan.
Lihat juga bagaimana Ali r.a ketika dikemukakan sebuah pertanyaan tentang perbedaan harta dan ilmu oleh 10 orang yang mengadu padanya. Dijawablah oleh Ali dengan 10 jawaban yang berbeda-beda. Lalu pulanglah kesepuluh orang tersebut dengan mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Saat tampil keren. Tampil keren bukan dengan penampilan tetapi dengan otak, ingat temen-temen kita merupakan generasi harapan yang pasti akan menjadi penerus perjuangan. Pemuda islam yang hidupnya bukan untuk hari ini doing tetapi untuk masa depan. Pemuda islam yang memecakan masalah bukan yang menjadi biang masalah.
Oleh karena itu bagi kamu yang masih sekolah dan belum kuliah da mempunya peluang kuliah niatkan hanya untuk Allah serta ilmu yang kita punya untuk menegakkan izzah islam. Banyak pemuda Islam saat ini ketika sekolah atau kuliah bukan mencari ilmu tetapi mencari nilai. Ingat nilai tidak seberapa tetapi klo ilmu itu pasti berguna.
Nach ga juga keren di otak juga tetapi harus keren di iman, keren di hadapan Allah karena ketakwaan, karena pemuda saat ini susah klo di ajak ngaji. Ingat di akhirat nanti kita ga kan di Tanya rumus matematika, fisika atau akuntasi. Ayo sekarang bergerak untuk belajar islam jangan kalah sama orang eropa yang saat ini getol banged belajar islam. Ketika kita ngaji insya Allah iman kita akan kuat. Nich cirri iman yang kuat
-Istiqomah dalam islam : ga pernah mau pindah agama, bangga dengan kerna menjadi pemuda islam
-Bagi-Nya Allah-Lah yang tertinggi : cinta hanya kepada Allah, tidak pernah mau
membagi cinta dan sayang-Nya kepada Makhluk Allah yang bukan muhrimnya.. Insya Allah anda akan menjadi manusia yang hebat bukan manusia pembuat masalah
-Keindahan dunia tidak membuatnya silau : ia tidak pernah memperdulikan kesenangan dunia baginya kesenangan akhirat yang abadi
-Tak pernah ragu tuk berkorban hanya untuk Allah
-Selalu menjalankan yang makhruf dan mencegah yang mungkar
Untuk itu wahai pemuda mari kita bangkit untuk bisa menjadi generasi harapan yang bisa mengubah dunia menjadi yang di inginkan Allah dan Rasul-Nya. Karena perubahan itu ada di tangan pemuda, karena ketika pemudanya menjadi biang masalah perubahan tak akan pernah terjadi tetapi ketika pemudanya menjadi pemecah masalah insya Allah perubahan itu ada.
Baca Selengkapnya...
Langganan:
Postingan (Atom)
